
Tuberkulosis Milier, Apakah sama dengan penyakit TBC ?
Oleh: dr. Jaunah Nisaa Rahma Pratiwi & dr. Inge Cahya Ramadhani Sp.P
Penyakit
tuberkulosis (TB) atau orang awam sering menyebutnya dengan TBC merupakan salah satu penyebab utama kematian infeksi paru. Prevalensi TB tahun 2011 menurut world health organization (WHO) terdapat sekitar 8,7 juta kasus. Insidensi TB di Amerika Serikat (AS) dilaporkan sekitar 11.182 kasus, diantaranya 20% kasus ekstra paru, dan 2,7% kasus milier. Insidensi TB di Indonesia pada tahun 2011 sekitar 0,38 hingga 0,54 juta jiwa dan menempati urutan keempat setelah India, Cina, dan Afrika Selatan. Prevalensi TB milier pada individu imunokompeten diperkirakan kurang dari 2% dari semua kasus TB dan 20% kasus ekstra paru. Kejadian TB milier meningkat seiring dengan epidemi HIV, pemakaian obat imunosupresi, transplantasi organ dan hemodialisis.
Tuberkulosis milier (TB Milier) adalah kelainan patologis yang menggambarkan granuloma berukuran sebesar benih millet (1-2 mm), berwarna kekuningan, yang dapat ditemukan di beberapa organ tubuh yang disebabkan penyebaran Mycobacterium tuberculosis secara hematogen dan limfogen. John Jacob Manget pada tahun 1700 menggunakan istilah "TB milier" yang berasal dari kata latin "milierius" yang berarti berhubungan dengan benih millet. Tuberkulosis milier merupakan bentuk lethal dari penyebaran TB. Organ tubuh yang paling sering tejadi penyebaran TB milier adalah organ yang mempunyai banyak sel fagosit di dinding sinusoid.
Tuberkulosis milier disebabkan oleh penyebaran basil Mycobacterium tuberculosis complex. Mycobacterium tuberculosis merupakan basil berbentuk batang atau sedikit melengkung, panjang 2-5 µm dan tebal 0,2-0,3 µm, bersifat aerob, nonmotil, tidak berspora dan tidak berkapsul.
Tuberkulosis milier yang terjadi saat infeksi primer memiliki onset akut dan cepat menjadi progresif, sedangkan TB milier yang terjadi saat reaktivasi memiliki gejala episodik atau progresif kronik. Gejala yang muncul umumnya tidak spesifik dan didominasi oleh efek sistemik terutama demam, penurunan berat badan, anoreksia, dan kelemahan. Gejala lain tergantung pada organ yang terlibat infeksi TB.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis TB milier antara lain rontgen toraks, kultur sputum, bronkoskopi, biopsi paru, computerized tomography (CT) scan/ magnetic resonance imaging (MRI) kepala, kultur darah, funduskopi, dan electrocardiogram (EKG).
Mycobacterium tuberculosis juga dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan cepat antara lain nucleic acid amplification (NAA), polymerase chain reaction (PCR), pemeriksaan radiometrik BACTEC dan enzim linked immunosorbent assay (ELISA). Tes tuberkulin dan interferon-gamma release assay (IRA) kurang bermanfaat pada pasien TB milier karena tidak bisa membedakan infeksi laten dan infeksi TB aktif. Pemeriksaan tuberkulin positif pada 60-73% kasus TB milier. Pemeriksaan xpert MTB/RifLCS sesuai international standards for tuberculosis care (ISTC) standar 4 direkomendasikan sebagai test mikrobiologi awal pada pasien meningitis TB.
Diagnosis TB milier sulit ditegakkan karena gejala yang tidak spesifik. Rontgen toraks yang normal tidak menyingkirkan diagnosis TB milier. Empat kriteria untuk diagnosis TB milier adalah sebagai berikut :
- Gambaran klinis sesuai dengan gejala TB, antara lain demam terutama malam hari, penurunan berat badan, anoreksia, takikardi, keringat malam menetap setelah pemberian obat antituberkulosis selama 6 minggu.
- Rontgen toraks menunjukkan gambaran klasik pola milier.
- Lesi paru berupa gambaran retikulonoduler difus bilateral dibelakang bayangan milier yang dapat dilihat pada rontgen toraks maupun HRCT scan.
- Bukti mikrobiologi dan atau histopatologi menunjukkan TB.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan TB milier sama dengan panatalaksaan TB paru. Penatalaksanaan TB milier menurut WHO diberikan OAT selama 6 bulan, terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol selama 2 bulan, dan dilanjutkan rifampisin dan isoniazid selama 4 bulan. Pemberian OAT pada fase lanjutan dapat diperpanjang tergantung pada keadaan klinis, radiologi dan evaluasi pengobatan. Tuberkulosis milier yang disertai meningitis TB, terapi OAT diberikan selama 9-12 bulan, dan pada TB tulang OAT diberikan selama 9 bulan.
Referensi:
- Kementrian kesehatan RI. Pendahuluan. Dalam: Pedoman nasional pelayanan kedokteran tatalaksana tuberkulosis. Jakarta: Bakti Husada; 2013. hal.1-5.
- Ray S, Talukdar A, Kundu S, Khanra D, Sonthalia N. Diagnosis and management of miliary tuberculosis current state and future perspectives. [Cited 2015 january 28th]. Available from: http://www.dovepress.com/diagnosis-and-management-of-miliarytuberculosis-current-state-and-fut-peer-reviewed-article-TRCM.
- Wikipedia. Miliary tuberkulosis. [Cited 2015 january 25th]. Available from: http://en.m.wikipedia.org/wiki/miliary_tuberculosis.
- Lessnau KD. Miliary tuberculosis. [Cited 2015 january13th]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/221777-overview.
- World Health Organization. Treatment of tuberculosis guidelines. 4th ed. Geneva: WHO Press; 2010. p. 95-7.
- Hopewell PC, Maeda MK. Tuberculosis. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, King TE, Schraufnagel DE, Murray JF, Nadel JA, editors. Murray & nadel’s texbook of respiratory medicine. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2010. p. 754-805.
- Bernando,J. Clinical manifestations, diagnosis, and treatment of extrapulmonary and miliary tuberculosis. [Cited 2015 february 3th]. Available from: http://www.update.com/contents/clinical-manisfestations-diagnosisand-treatment-of-extrapulmonary-and-miliary-tuberculosis.


