PEMERIKSAAN LABORATORIUM COVID-19 UNTUK DIAGNOSIS : APA SAJA DAN BAGAIMANA ?

PEMERIKSAAN LABORATORIUM COVID-19 UNTUK DIAGNOSIS : APA SAJA DAN BAGAIMANA ?

Oleh : Edward Kurnia Setiawan Limijadi 

Pendahuluan

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh World Heallth Organization (WHO,2020). Virus dan penyakit ini diketahui berawal di kota Wuhan, Cina sejak Desember 2019. Per tanggal 21 Maret 2020, jumlah kasus penyakit ini mencapai angka 275,469 jiwa yang tersebar di 166 negara, termasuk Indonesia.

Virus ini mengenai masyarakat Indonesia di berbagai daerah dengan berbagai kondisi pasien dari yang tidak bergejala sampai dengan gejala berat bahkan jumlah kematian yang sampai saat ini meningkat secara signifikan. Diagnosis menjadi penting bagi mereka yang mengalami sakit maupun orang yang tidak sakit tetapi perlu untuk memeriksakan kesehatannya berkaitan dengan infeksi SARS COV-2 ini. Oleh karena itu, perlu kita ketahui berbagai cara untuk mendeteksi virus tersebut dengan penggunaan parameter laboratorium imunologi antara lain pemeriksan antibodi, antigen, dan RT-PCR SARS COV-2.

Pemeriksaan Laboratorium Polymerase Chain reaction (PCR)

Polymerase Chain reaction (PCR) merupakan metode yang dianjurkan untuk deteksi virus melalui amplifikasi asam nukleat dengan real-time reverse transcription polymerase chain reaction (rRT-PCR) dan dengan sequencing. Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS-CoV-2 atau rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2. Berbeda dengan WHO, CDC sendiri saat ini hanya menggunakan primer N dan RP untuk diagnosis molekuler. Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat juga telah menyetujui penggunaan Tes cepat molekuler (TCM) berbasis GenXpert® yang diberi nama Xpert® Xpress SARS-CoV 2. Perusahaan lain juga sedang mengembangkan teknologi serupa. Tes cepat molekuler lebih mudah dikerjakan dan lebih cepat karena prosesnya otomatis sehingga sangat membantu mempercepat deteksi. Pemeriksaan ini memiliki kelemahan yaitu fasilitas pemeriksaan harus memiliki biosafety cabinet (BSC).

Pasien konfirmasi COVID-19 didiagnosis jika pemeriksaan hari ke-1 dan atau ke-2 memiliki hasil positif dengan atau tanpa klinis yang mendukung. Apabila tidak tersedia fasilitas pemeriksaan RT PCR, pasien dengan perbaikan klinis dapat dipulangkan dengan edukasi untuk tetap melakukan isolasi diri di rumah sebagai tambahan waktu isolasi selama 14 hari.

Sampel pemeriksaan PCR ini saat ini yang utama adalah swab nasofaring dan bisa disertai orofaring. Sampel-sampel cairan tubuh lain dapat dilakukan pemeriksaan akan tetapi dengan perlakuan khusus di dalam laboratorium. Swab ini lalu akan dimasukkan ke viral transport medium (VTM) yang selanjutnya dibawa ke laboratorium genetika untuk pemeriksaan tersebut.

Hasil pemeriksaan negatif pada spesimen tunggal, terutama jika spesimen berasal dari saluran pernapasan atas, belum tentu mengindikasikan ketiadaan infeksi. Oleh karena itu harus dilakukan pengulangan pengambilan dan pengujian spesimen. Spesimen saluran pernapasan bagian bawah (lower respiratory tract) sangat direkomendasikan pada pasien dengan gejala klinis yang parah atau progresif. Adanya patogen lain yang positif tidak menutup kemungkinan adanya infeksi COVID-19, karena sejauh ini peran koinfeksi belum diketahui. Pengambilan spesimen pasien suspek untuk pemeriksaan RT PCR dilakukan sebanyak dua kali berturut-turut serta bila terjadi kondisi perburukan.

Pemeriksaan rRT-PCR untuk pasien suspek diwajibkan untuk dilakukan dalam rangka mendiagnosis dan pemeriksaan ini dianggap sebagai pemeriksaan baku emas dalam mendiagnosis Covid-19. Pasien atau masyarakat yang dicurigai terinfeksi virus ini dan tidak memiliki gejala diwajibkan melakukan isolasi selama 10 hari, atau apabila memiliki gejala ringan sampai sedang ditambah dengan isolasi 3 hari setelah gejala menghilang. Hal ini dilakukan agar virulensi virus corona menurun dan tidak menularkan kepada orang lain. Apabila pasien tersebut ingin memeriksakan diri dengan pemeriksaan rRT-PCR, maka hal ini lebih baik, akan tetapi pemeriksaannya bersifat mandiri.

Sampai saat ini daerah-daerah yang memiliki fasilitas pemeriksaan PCR, pasien-pasien tetap dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan PCR tersebut untuk diagnosis infeksi virus corona. Apabila tidak terdapat fasilitas pemeriksan PCR atau antrian pemeriksaan terlalu panjang, maka dengan panduan kemenkes revisi 5 dapat dilakukan pemeriksaan antibodi. Bahkan, WHO pada bulan Desember 2020 ini mengeluarkan bahwa diagnosis corona virus pada kondisi-kondisi tertentu dapat menggunakan pemeriksaan antigen virus corona yang disertai dengan gejala klinis.

 Rapid Test Antibodi SARS COV-2

Pemeriksaan antibodi yang ada dalam tubuh manusia merupakan salah satu cara untuk mendiagnosis suatu penyakit infeksi. Pemeriksaan jenis ini memiliki kelemahan yang harus diperhatikan dengan hati-hati. Hal ini didasarkan bahwa prinsip mendeteksi adanya infeksi paling baik menggunakan parameter yang langung bagian dari mikroorganisme itu, sedangkan antibodi merupakan suatu protein yang muncul akibat ada paparan dari bagian mikroorganisme tersebut. Banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi dibentuknya antibodi seperti keadaan imun tersupresi, kurang gizi, dsbnya.

Pemeriksaan antibodi dilakukan dengan menggunakan sampel darah penuh (whole blood), serum maupun plasma. Pemilihan sampel ini lebih diutamakan menggunakan plasma karena lebih aman bagi orang yang bekerja, sedangkan whole blood sebaiknya dihindari karena eritrosit dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Pemilihan ini juga diutamakan untuk kevalidan hasil yang tinggi.

Pemeriksaan ini mendeteksi antibody yang terbentuk dari tubuh manusia apabila terpapar virus corona, yang dapat dideteksi sekitar 10 hari setelah terpapar virus. Hal ini menjadi kelemahan pemeriksaan ini yang dapat negative palsu apabila pemeriksaan dilakukan pada kurang dari 10 hari. Selain itu, pemeriksaan ini dapat menjadi negative palsu apabila memang orang yang diperiksa pernah terpapar jenis virus lain yang sekelompok dengan virus corona seperti SARS COV-1, MERS, dsb-nya. Oleh karena itu, interpretasi hasil harus hati-hati dan mempertimbangkan kondisi pasien tersebut. Dengan demikian diperlukan pemeriksaan lanjutan yang digunakan untuk mendiagnosis virus corona secara tepat yaitu rRT-PCR.

Pemeriksaan antibodi saat ini masih dapat digunakan untuk melakukan skrining pasien apakah ia terpapar virus corona atau tidak, dengan alasan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemeriksaan jenis lainnya untuk deteksi virus corona. Namun, apabila hasil antibody negative, tenaga kesehatan ataupun individu dan orang sekitarnya tetap harus berhati-hati karena bisa saja hasilnya adalah negative palsu. Pemeriksan antibody ini sudah tidak dipakai dalam skrining infeksi virus corona untuk perjalanan di Indonesia. Sebagai gantinya, pemeriksaan antigen yang diterapkan dalam skrining infeksi untuk perjalanan di Indonesia.

Rapid Test Antigen SARS COV-2

Pemeriksaan laboratarium untuk diagnosis infeksi virus corona yaitu dengan pemeriksaan tes cepat (rapid test) antigen SARS-COV-2. Metode ini saat ini baru yang ada di seluruh dunia, sehingga belum ada untuk pengukurannya secara kuantitatif. Pemeriksaan ini memiliki keuntungan dan kerugian yang harus dipertimbangkan secara hati-hati dan harus dilihat dari waktu perkembangan infeksi virus corona yang terjadi pada suatu individu. Sampel dari pemeriksaan ini yaitu swab nasofaring ataupun beberapa perusahaan dapat menggunakan saliva ataupun swab orofaring. Sampel yang direkomendasikan untuk pemeriksaan saat ini yaitu swab nasofaring.

Pemeriksaan antigen yang digunakan saat ini merupakan pemeriksaan antigen metode cepat. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cepat beberapa menit saja antara 20-30 menit sudah ada hasilnya. Pemeriksaan ini berdasarkan panduan WHO yang dikeluarkan Desember 2020 dapat digunakan untuk diagnosis pasien suspek dengan disertai penambahan kriteria klinis dan epidemiologis. Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan antigen yang positif saja tanpa disertai gejala klinis atau tidak memiliki epidemiologis yang jelas perlu dilakukan pemeriksaan konfirmasi yaitu rRT-PCR.

Data sensitivitas dan spesifisitas didapatkan dari beberapa peneliti di berbagai negara dengan sensitifitas berkisar 0-94%, dan spesifisitas lebih dari 97%. Pemeriksaan antigen ini baik diperiksa bagi mereka yang memiliki jumlah virus yang tinggi (CT < 25) yang biasanya muncul dalam presimtomatik (1-3 hari sebelom onset gejala) dan awal fase simtomatik penyakit (5-7 hari pertama dari sakit). Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk deteksi awal dari infeksi virus corona sebenarnya dilakukan dengan baik dengan keadaan ini, sehingga dapat diberikan penanganan lebih cepat. Pasien yang sudah melewati 5-7 haru setelah onset gejala memiliki jumlah virus yang lebih rendah, sehingga pemeriksaan antigen ini bisa terjadi negative palsu.

Keterbatasan lain yaitu bahwa individu tidak ada yang sangat mengerti kapan ia terinfeksi, sehingga fase-fase presimtomatik, onset simtomatik menjadi tidak jelas. Hal ini yang menyulitkan dalam interpretasi hasil laboratorium, apakah benar- benar positif atau negative. Penerapan di lapangan menjadi terkendala dengan keterbatasan ini. Oleh karena itu, hasil yang positif apabila tidak terdapat gejala wajib dilanjutkan dengan pemeriksaan rRT-PCR, begitu pula dengan pemeriksaan hasil negative, apabila individu tersebut tidak yakin dengan hasilnya, tetap diperbolehkan untuk memeriksa rRT-PCR.

Meskipun terdapat beberapa keterbatasan di dalam praktek lapangan, pemeriksaan antigen ini dapat digunakan diagnosis dan penentuan epidemiologis dalam kondisi Covid-19 saat ini. Beberapa keadaan yang mendukung secara klinis salah satunya, atau orang yang tinggal di daerah dengan tingkat penyebaran tinggi ataupun orang tersebut bekerja di fasilitas kesehatan, apabila memiliki hasil pemeriksaan antigen ini positif, keputusan diagnosis konfirmasi bahwa ia terinfeksi virus corona dapat diambil untuk selanjutnya diberikan tatalaksana yang sesuai.

 Simpulan

Pemeriksaan laboratorium penting dilakukan bagi pasien ataupun individu yang dicurigai terinfeksi virus corona dengan berbagai derajat infeksinya. Pemilihan parameter pemeriksaan perlu dipilih dengan hati-hati sesuai dengan kondisi seseorang dan tentunya dapat berkonsultasi dahulu dengan dokter yang mengerti tentang penyakit ini. Tetaplah menerapkan protocol kesehatan kapanpun dan dimanapun agar tidak perlu khawatir akan terinfeksi virus corona.

Penulis adalah Penanggjung Jawab

Instalasi Laboratorium RSUD Ajibarang

 

(ed.web. goens’GN”)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Komentar