
NOVEL ONLINE ; RAMADAN YANG DIRINDUKAN
Serial Cerita "Ramadan yang Dirindukan" oleh Igun Winarno
Ramadan selalu membawa kisah dan kenangan yang mendalam bagi setiap insan. Bulan yang penuh berkah ini menjadi waktu yang dirindukan, di mana setiap doa lebih bermakna, setiap kebersamaan lebih hangat, dan setiap ujian menjadi pelajaran berharga.
Dalam rangka menyambut dan mengisi bulan suci ini dengan inspirasi, Igun Winarno—penulis dari RSUD Ajibarang—akan menghadirkan serial cerita Ramadan yang Dirindukan. Sebuah rangkaian kisah yang akan tayang sepanjang bulan Ramadan, mengajak kita untuk merenungi makna keikhlasan, keteguhan hati, dan indahnya berbagi di bulan penuh cahaya ini.
Melalui setiap episodenya, pembaca akan diajak menelusuri perjalanan emosional yang menggugah, menghangatkan hati, dan membangkitkan semangat dalam menyambut Ramadan dengan penuh makna. Nantikan dan mari bersama-sama menikmati kisah yang akan membawa kita lebih dekat pada esensi Ramadan yang sesungguhnya.
Selamat menikmati "Ramadan yang Dirindukan"!
BAB 1
RAMADHAN YANG DIRINDUKAN
Sore itu, langit memancarkan semburat jingga yang indah, menghamparkan warna-warna lembut di cakrawala. Angin sore berembus perlahan, membawa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di beranda masjid kecil di sudut kota, empat sahabat duduk santai, menikmati teh hangat dan kurma yang tersaji di atas nampan sederhana.
Dokter Fadli, Perawat Agus, Perawat Fakhrudin, dan Perawat Hafid adalah empat tenaga medis yang telah bersahabat sejak kecil. Kesibukan mereka di rumah sakit sering kali menyita waktu, tetapi hari Minggu ini menjadi pengecualian. Tak ada jadwal jaga, tak ada panggilan darurat—hanya momen kebersamaan yang langka.
Matahari perlahan condong ke barat, pertanda magrib akan segera tiba. Di sekitar mereka, suasana masjid mulai lebih hidup. Beberapa jamaah berdatangan, sebagian mengambil air wudu, sementara yang lain memilih duduk bersandar di tiang-tiang masjid, tenggelam dalam bacaan Al-Qur’an.
Ramadan tinggal menghitung hari. Keempat sahabat itu, seperti kebanyakan orang, merasakan getaran berbeda setiap kali bulan suci semakin dekat. Ada yang menanti dengan penuh kerinduan, menganggapnya sebagai bulan penuh keberkahan. Namun, ada pula yang merasa Ramadan adalah tantangan berat, sebuah ujian yang tidak semua orang siap menjalaninya.
Sore itu, mereka berbincang. Tentang Ramadan yang dinanti, tentang mengapa ada yang begitu merindukannya, dan ada pula yang merasa biasa saja. Tentang makna bulan suci yang lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga.
Angin sore yang lembut menyapu beranda masjid, membawa aroma tanah yang mulai mendingin dan semilir wangi bunga kenanga di halaman. Fadli meregangkan tangan, menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
“Ahhh… Minggu sore begini enaknya di masjid ya, tenang banget,” ujarnya dengan suara pelan, seakan tak ingin mengusik keheningan yang begitu damai. “Sudah dekat Ramadan lagi, rasanya seperti baru kemarin kita puasa bareng.”
Agus tersenyum, menyeruput teh hangat di cangkir kecilnya. Masjid ini selalu menyediakan teh dan air putih setiap sore. Uap teh hangat masih mengepul, bercampur dengan udara sore yang mulai sejuk. “Iya, ya,” gumamnya, matanya menerawang ke langit yang perlahan berubah warna. “Bulan puasa itu selalu punya suasana yang berbeda. Ada ketenangan yang nggak bisa dijelaskan. Aku selalu merasa lebih dekat dengan Allah.”
Fakhrudin, yang sejak tadi bersandar di tiang masjid, mengangguk pelan. “Setuju,” katanya, suaranya dalam dan mantap. “Ada berkah tersendiri di bulan Ramadan. Selain ibadah yang lebih khusyuk, ada juga rasa kebersamaan yang lebih kuat. Buka puasa bareng, tarawih bareng, sahur bareng. Beda banget rasanya.”
Hafid, yang sejak tadi diam, menopang dagunya dengan satu tangan. Matanya menatap kosong ke halaman masjid, seakan merenungkan sesuatu. Tiba-tiba ia berujar, “Tapi aku juga sering ketemu orang yang merasa biasa saja atau malah nggak menanti Ramadan,” katanya akhirnya. “Ada yang bilang berat, ada yang sibuk mikirin kerjaan, ada yang merasa capek karena harus tetap kerja sambil puasa.”
Fadli mengangguk, tatapannya hangat. “Iya, mungkin karena perspektifnya beda-beda. Kalau kita anggap Ramadan sebagai beban, ya pasti terasa berat. Tapi kalau kita lihat sebagai kesempatan memperbaiki diri, malah jadi sesuatu yang dinanti-nanti.”
Fakhrudin menarik napas pelan, lalu mengembuskannya dengan senyum yang tetap menghiasi wajahnya. “Benar,” katanya lembut. “Apalagi di rumah sakit. Banyak pasien yang justru berharap bisa ikut berpuasa karena merasa itu bagian dari ibadah yang membawa ketenangan. Aku pernah bertemu pasien yang tetap semangat puasa meski sedang dalam masa pemulihan.”
Sejenak, mereka terdiam. Kata-kata Fakhrudin seakan meresap dalam hati masing-masing. Angin sore kembali berembus, membelai wajah mereka dengan lembut.
Ramadan semakin dekat, dan dalam hati masing-masing, mereka tahu bulan suci ini bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, Ramadan adalah tentang menemukan kembali diri sendiri, tentang perjalanan hati menuju cahaya yang lebih terang.
Mereka saling bertukar senyum, seolah sepakat dalam diam. Ramadan yang dirindukan, sebentar lagi akan tiba.
Agus menghela napas. “Tapi ada juga yang nggak bisa puasa karena kondisi kesehatan, dan mereka merasa sedih. Seakan ada yang kurang dalam ibadah mereka. Makanya kita harus bersyukur kalau masih diberi kesempatan sehat untuk berpuasa.”
Hafid, dengan wajah penasaran, kembali bertanya, “Sebenarnya, mengapa kita mesti merindukan bulan Ramadan?” Ekspresi cemberutnya yang khas membuat yang lain terpesona. Saat mereka terpaku pada wajah Hafid, tiba-tiba suara berat mengagetkan mereka. “Boleh saya ikut nimbrung minum teh?”
Mereka menoleh. Guru Darmadji, guru agama mereka semasa SMP, tersenyum hangat. Keempat sahabat itu saling berpandangan, lalu kompak menjawab, “Boleh, Pak Guru.”
Fadli segera memanfaatkan momen itu. “Nah, Pak Guru, kami sedang berdiskusi tentang mengapa Ramadan harus dirindukan. Bagaimana menurut Pak Guru?”
Pak Guru menarik napas dalam, memandangi wajah murid-muridnya yang kini telah dewasa. “Kenapa, ya?” katanya seolah tidak tahu, lalu menyeruput tehnya.
“Pak Guru, ayo dong jelasin ke kami. Dulu Pak Guru nggak pernah menerangkan ini ke kami, sih,” rayu Hafid.
Guru Darmadji terkekeh. “Ehm... ehm...” Ia berdehem pelan, lalu menyipitkan mata menggoda. “Tidak menerangkan atau kamu yang tidur saat pelajaran, Mas Hafid?”
Yang lain tertawa, sementara Hafid hanya nyengir. Ia memang terkenal sering mengantuk di kelas, meski sejatinya ia anak yang cerdas.
Guru Darmadji menghela napas dan mulai menjelaskan. “Ramadan itu istimewa karena bulan inilah Al-Qur’an diturunkan, sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. Allah berfirman bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang benar dan batil. Selain itu, ada keutamaan berpuasa serta keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Allah menghendaki kemudahan, bukan kesulitan, bagi hamba-Nya.”
Setelah menyeruput tehnya lagi, beliau melanjutkan, “Di bulan ini, pahala amalan dilipatgandakan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang melakukan amalan sunnah di Ramadan, pahalanya seperti amalan wajib di bulan lain. Dan siapa yang melakukan amalan wajib, pahalanya seperti tujuh puluh amalan wajib di bulan lain.”
Mereka mengangguk-angguk, memahami makna Ramadan yang lebih dalam. Hingga akhirnya Fadli bertanya, “Saya pernah dengar kalau di bulan puasa ini semua dosa diampuni. Benar begitu, Pak Guru?”
Guru Darmadji tersenyum bijak. “Benar, tetapi ada syaratnya. Puasa harus dilakukan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah. Berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim, dosa yang diampuni adalah dosa kecil. Sedangkan dosa besar, seperti syirik, zina, dan riba, harus disertai taubat yang sungguh-sungguh.”
Sore itu, angin membawa ketenangan. Ramadan semakin dekat, dan hati mereka semakin siap menyambutnya dengan penuh keimanan.
Fakhrudin melanjutkan pertanyaannya, "Hanya itu saja, Guru, alasan mengapa Ramadhan layak untuk dirindukan?" Suaranya terdengar sedikit kecewa.
Guru tersenyum, memandang wajah Fakhrudin yang tampak kecewa. "Masih banyak keistimewaan Ramadhan yang membuatnya layak untuk dirindukan. Di antaranya, Ramadhan adalah waktu di mana pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Hal ini disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, bahwa saat Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Ini menunjukkan besarnya kesempatan untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah."
Guru melanjutkan, "Selain itu, ada malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, ‘Malam Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan’ (QS. Al-Qadr: 3). Ibadah di malam ini setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun."
"Ada juga hadis yang menyebutkan bahwa puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka. Dan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183, dijelaskan bahwa puasa bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa. Dengan segala keutamaannya, Ramadhan memang bulan yang sangat layak untuk dinanti dan dipersiapkan dengan baik."
Guru Darmadji menatap mereka dengan penuh makna, lalu tersenyum. "Sudah siap menyambut Ramadhan tahun ini?"
-By.goens'GN
Catan:
a. Bisa yah kasih saran untuk judul berikutnya
b. Koreksi isi yang kurang pas
c. atau apresiasi lainnya... terima kasih


