SOSIALISASI POKJA SKP (SASARAN KESELAMATAN PASIEN) SESUAI SNARS 1.1 SAAT APEL PAGI

SOSIALISASI POKJA SKP (SASARAN KESELAMATAN PASIEN) SESUAI SNARS 1.1 SAAT APEL PAGI

AJIBARANG – Pada Hari selasa, tanggal 3 maret 2020, Apel pagi ini dimulai dengan sosialisasi Pokja Akreditasi di Apel Pagi. Apel ini di pimpin oleh dr. Sugeng Riyadi selaku KaSie Pelayanan Medis RSUD Ajibarang. Beliau menyampaikan amanat apel mengenai persiapan karyawan untuk kesiapan dalam menghadapi akreditasi Rumah Sakit yang rencana akan dilaksanakan di akhir bulan maret. Kemudian dilanjutan dengan sosialisasi tentang keakreditasian.

dr. Sugeng Riyadi selaku Kasie Pelayanan memberikan arahan saat apel pagi

Sosialisasi pada hari ini diisi oleh Pokja SKP (SASARAN KESELAMATAN PASIEN)  yang disampaikan oleh  Haris Usman, AMK. selaku penanggung jawab dokumen SKP. Beliau Menjelaskan bahwa  Semua Karyawan Harus mengetahui 6 Sasaran Keselamatan Pasien (SKP).

Berdasarkan Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) Edisi 1.1, bahwa Keselamatan Pasien Rumah Sakit terbagi dalam 6 sasaran yaitu terdiri dari Ketepatan Identifikasi Pasien, Peningkatan Komunikasi Efektif, Peningkatan Keamanan Obat atau High Alert yang harus diwaspadai, Kepastian terhadap lokasi, prosedur dan pasien operasi, Pengurangan terhadap risiko infeksi setelah menggunakan pelayanan kesehatan, dan Pengurangan risiko jatuh.

SKP yang pertama yaitu Ketepatan Identifikasi Pasien. Dalam melakukan identifikasi pasien yang menjadi rujukan awal adalah E-KTP Pasien karena datanya lebih valid. Caranya dengan memberikan gelang identitas pasien yang terdiri dari 3 parameter yaitu Nama, Tanggal lahir dan Nomer Rekam Medis

“Pasien diidentifikasi menggunakan tiga identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien. Identifikasi dilakukan secara verbal dan visual. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah, sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis, sebelum pemberian pengobatan dan tindakan /prosedur, sebelum pemberian diit, dan Sebelum pelaksanaan prosedur radiologi diagnostic. Identifikasi juga dilakukan terhadap pasien koma dengan verbal (bertanya kepada keluarga pasien) dan visual (melihat gelang identitas). Gelang pasien terbagi menjadi 2 jenis, yaitu : Gelang Identitas terdiri dari Gelang biru (untuk laki-laki) dan Gelang pink/merah muda (untuk perempuan). Sedangkan gelang penanda terdiri dari Gelang Kuning (untuk pasien dengan resiko jatuh), Gelang merah (untuk pasien yang alergi obat tertentu), Gelang Ungu (untuk pasien dengan Do Not Resutiation)”, tuturnya.

SKP yang ke dua yaitu Peningkatan Komunikasi Efektif. Penatalaksanaan konsul merupakan salah satu bentuk komunikasi efektif yang hanya boleh dilakukan via telepon. Permintaan image oleh DPJP dilakukan melalui media elektronik.  Komunikasi via elektronik hanya boleh menggunakan E-Mail, dan untuk komunikasi elektronik selain E-Mail boleh digunakan namun hanya sebatas untuk meminta ijin konsul kepada DPJP.

Tata cara konsul dengan menggunakan teknik SBAR :

  1. Situation (Kondisi pasien saat itu)
  2. Background (Latar belakang riwayat kesehatan pasien)
  3. Assassment (hasil pemeriksaan fisik maupun penunjang)
  4. Recommendations (tindakan yang sudah dilakukan dan rekomendasi dari dari DPJP)

Setelah mendapat instruksi dari DPJP maka dilakukan teknik CABAK :

  1. Catat yaitu Catat langsung instruksi DPJP pada lembar CPPT
  2. Baca yaitu Bacakan kembali instruksi yang diberikan oleh DPJP
  3. Konfirmasi  yaitu Tanyakan kembali kepada DPJP apakah terapi yang dibaca sudah sesuai dengan instruksi lalu kemudian dicap CABAK dan mintakan tanda tangan DPJP < 24 jam

Selain itu ada Pelaporan hasil pemeriksaan diagnostik kritis meliputi :

  1. Hasil kritis laboratorium adalah Waktu standar adalah 30 menit setelah hasil keluar sampai ada instruksi tindakan dari DPJP
  2. Hasil kritis Radiologi adalah Waktu 30 menit setelah hasil dibacakan oleh dokter spesialis radiologi sampai ada instruksi tindakan dari DPJP
  3. Hasil Kritis Vital Sign adalah Penatalaksanaan dalam Early Warning System (EWS)

Komunikasi efektif berupa serah terima pasien (Hand Over)  didalam rumah sakit:

  1. Antar PPA seperti antara staf medis dan staf medis, antara staf medis dan staf keperawatan, atau dengan staf klinis lainnya pada saat pertukaran Shift
  2. Antar berbagai tingkat layanan dirumah sakit seperti pasien dipindahkan dari unit intensif ke unit perawatan atau dari unit darurat ke kamar operasi, dll
  3. Dari unit rawat inap ke unit layanan diagnostic atau unit tindakan seperti radiologi atau unit terapi fisik

 
SKP yang ke tiga yaitu Peningkatan Keamanan Obat atau High Alert yang harus diwaspadai. Setiap obat jika salah penggunaannya dapat membahayakan pasien, bahkan bahayanya dapat menyebabkan kematian atau kecacatan pasien, terutama obat-obat yang perlu diwaspadai. Obat yang perlu diwaspadai adalah obat yang mengandung risiko yang meningkat bila kita salah menggunakan dan dapat menimbulkan kerugian besar pada pasien.

  1. RSUD Ajibarang mempunyai daftar obat yang termasuk dalam obat High Alert
  2. Pengelolaan obat High Alert elektrolit konsentrat pekat tidak boleh ada diruang rawat inap terkecuali pada IGD, ICU, VK, IBS
  3. Semua obat High Alert diberi label High Alert dan sebelum diberikan kepasien harus dilakukan Double Check
  4. Double Check didokumentasikan dengan member cap Double Check pada lembar Catatan Pemberian Obat (CPO) dan ditanda tangani oleh petugas medis 1 dan 2

“Obat yang perlu diwaspadai terdiri atas obat risiko tinggi, yaitu obat yang bila terjadi kesalahan (error) dapat menimbulkan kematian atau kecacatan seperti, insulin, heparin. Lalu obat yang nama, kemasan, label, penggunaan klinik tampak/kelihatan sama (look a like), bunyi ucapan sama (sound a like), seperti Xanax dan Zantac atau hydralazine dan hydroxyzine atau disebut juga nama obat rupa ucapan mirip (NORUM); lalu elektrolit konsentra.” Terangnya.

SKP yang ke empat yaitu Kepastian terhadap lokasi, prosedur dan pasien operasi. Kepastian ini dilakukan untuk mengurangi kesalahan dalam pembedahan. Sebelum dilakukan operasi maka dilakukan siste marking daerah operasi dan pastikan prosedur yang akan dilakukan serta ketepatan dalam pasien yang akan dioperasi. hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Marking Site dilakukan pada semua kasus operasi ( PERMENKES No.11 Tahun 2017)
  2. Marking Site di RSUD Ajibarang menggunakan tanda centang di lingkari  dan dilakukan oleh dokter operator
  3. Pelaksanaan keselamatan dalam operasi yaitu menggunakan Surgical Safety Check List
  4. Marking Site terdapat dalam inform consent operasi dan ditanda tangani oleh pasien atau keluarga pasien

SKP yang ke lima yaitu Pengurangan terhadap risiko infeksi. Pengurangan resiko infeksi ini dilakukan dengan bekerja sama dengan PPI yaitu membudayakan cuci tangan 5 momen dan 6 langkah cuci tangan.

SKP yang ke enam yaitu  Pengurangan risiko jatuh. Dalam pengurangan resiko jatuh kita gunakan standat morse scale untuk dewasa dan di atas 60 th menggunakan skala Ontario, sedangkan pada anak menggunakan humpy dumpty. Pada pasien rawat jalan menggunakan get up and go yaitu diberikan pita kuning pada lengan pasien yang mengalami gangguan dalam  mobilisasi. Sedangkan yang di rawat inap menggunakan gelang kuning dan atau segitiga jatuh warna kuning atau segitiga jatuh warna merah.

”Untuk jatuh sedang hanya dipasangi segitiga jatuh warna kuning sedangkan untuk jatuh tinggi mengunakan gelang kuning dan dipasangi segitiga jatuh warna merah yan dipasangkan pada side rail bed tempat tidur pasien.” Pungkasnya.

Diakhir sosialisasinya, ia berpesan semoga yang disampaikan dapat bermanfaat untuk kita semua dan kita dapat memberikan pelayanan yang berprinsip pad sasaran keselamatan pasien  dengan paripurna. (HU/gude).

 

Related Posts

Komentar