Waspadai Sindrom Koroner Akut dan Gangguan Irama Jantung Atrial Fibrilasi

Waspadai Sindrom Koroner Akut dan Gangguan Irama Jantung Atrial Fibrilasi

(Ditulis oleh: dr. Prabasary Anindya/ dr. Rakhmat Tajudin, SpPD)

Sindrom koroner akut adalah istilah medis yang menggambarkan kondisi dimana aliran darah menuju ke jantung berkurang secara tiba-tiba. Gejalanya berupa nyeri dada berat, dapat menjalar ke lengan kiri, disertai keringat dingin dan mual muntah. Ini merupakan kondisi medis darurat yang memerlukan penanganan segera. 

Terdapat tiga tipe sindrom koroner akut (SKA), yakni:

  • Serangan angina tidak stabil, yakni kondisi di mana suplai darah ke jantung masih sangat terbatas, namun tidak ada kerusakan permanen, sehingga otot jantung tetap terjaga.
  • Non-ST Segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI), dimana terjadi penyumbatan sebagian arteri koroner diikuti iskemia sel jantung.
  • ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI), dimana sudah terjadi penyumbatan total arteri koroner, yang menyebabkan kematian sel jantung.

Penyebab dan Faktor Risiko Sindrom Koroner Akut

Umumnya kasus sindrom koroner akut ini disebabkan oleh adanya penyempitan pembuluh darah yang memasok jantung. Hal ini umumnya disebabkan oleh aterosklerosis, suatu plak yang terbentuk pada dinding dalam arteri dan menyumbat aliran darah koroner.

Faktor risiko terjadinya sindrom koroner akut antara lain:

Gejala Sindrom Koroner Akut yang Perlu Anda Waspadai

Gejala sindrom koroner akut yang paling umum adalah nyeri dada terasa berat, yang dapat menjalar hingga ke rahang dan lengan kiri. Gejala lainnya antara lain berkeringat, sesak napas, pusing, terasa mau pingsan, mual, gelisah, dan denyut jantung tidak teratur. Rasa sakit pada orang dengan serangan angina stabil, biasanya akan reda setelah beberapa menit. Namun, rasa sakit pada orang yang menderita sindrom koroner akut biasanya berlangsung lebih dari 15 menit, atau bahkan hingga berjam-jam. Namun yang perlu diwaspadai, lansia dan penderita diabetes yang juga memiliki sindrom koroner akut sering kali tidak mengalami nyeri dada.

Diagnosis Sindrom Koroner Akut

Selain pemeriksaan fisik, dokter akan menganjurkan serangkaian tes untuk mendiagnosis kemungkinan gejala sindrom koroner akut. Serangkaian tes tersebut adalah dengan menggunakan elektrokardiogram (EKG), tes darah untuk melihat apakah terdapat peningkatan enzim jantung, hingga pemindaian perfusi jantung (untuk menghitung jumlah darah di dalam otot jantung selama beristirahat dan saat beraktivitas). Pemeriksaan pemindaian seperti rontgen dada, ekokardiografi, dan angiografi juga penting dilakukan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi kondisi ini.

Sindroma Koroner Akut dan Gangguan Irama Jantung

            Salah satu komplikasi yang muncul akibat kematian sel jantung pada penderita Sindroma Koroner Akut (SKA) adalah aritmia, yakni 28% diantaranya mengalami atrial fibrilasi (AF).  Atrial fibrilasi adalah gangguan sinyal kelistrikan jantung, dimana denyut jantung tidak beraturan dan cepat. Denyut jantung yang normal berkisar antara 60-100 kali per menit dengan irama yang teratur. Pada penderita AF, irama jantung menjadi tidak teratur dan bisa lebih dari 100 kali per menit. Atrial fibrilasi dapat menimbulkan gejala ataupun tidak. Gejala yang sering kali muncul diantarany lemas, pusing, jantung berdebar dan sesak nafas.

Penatalaksanaan Sindroma Koroner Akut

Sindrom koroner akut adalah kondisi darurat medis di rumah sakit dan sebagian besar kasus memerlukan evaluasi ketat di unit perawatan jantung intensif (ICCU). Hasil tes terhadap SKA akan membantu dokter untuk memutuskan jenis perawatan yang tepat, apakah memerlukan intervensi PCI (Percutaneus Coronary Intervension) atau tidak. Untuk perawatan lanjutan, dokter akan memberikan obat-obatan untuk menurunkan risiko serangan jantung berulang meliputi beta-blocker, aspilet, CPG, atau obat-obatan anti pembekuan darah lainnya, obat penurun tekanan darah, dan kolesterol. Pola hidup sehat juga harus diterapkan untuk menunjang proses penyembuhan. Berhenti merokok, mengonsumsi makanan sehat, dan berolahraga secara teratur merupakan langkah penting yang bisa diakukan untuk mengurangi risiko terserang sindrom koroner akut.

Referensi:

  1. Al – Attar N, Folliguet T. The Heart to Assess tisk in coronary artery disease. 2013;11. An article from the e Journal of the ESC Council for Cardiology Practice. 
  2. Anderson JL, Adams CD, Antman EM, Bridges CR, et al. ACC/AHA 2017 guidelines for the management of patient with unstable angina/ non ST-elevation myocardial infraction. A report of the American Guidelines. Circulation.200; 116:e148-e304.
  3. Panduan Praktik Klinis RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta. 2014-2015. 
  4. Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia. Pedoman Tata Laksana Sindroma Koroner Akut 2017. Jakarta : Centra Communication ; 2017.
  5. Yuwono HS. Ilmu Bedah Vaskular, Sains dan Pengalaman Praktis. 2010 ABC of Arterial and Venous Disease 

Gambar cover diambil dari sini.

Related Posts

Komentar