IMPLEMENTASI PROGRAM EXPANDING MATERNAL AND NEONATAL SURVIVAL (EMAS) MELALUI KEGIATAN AUDIT MATERNAL PERINATAL DI RSUD AJIBARANG

Kamis, 11 April 2019 | 4866 Kali
IMPLEMENTASI PROGRAM EXPANDING MATERNAL AND NEONATAL SURVIVAL (EMAS) MELALUI KEGIATAN AUDIT MATERNAL PERINATAL DI RSUD AJIBARANG

AJIBARANG,-Rumah Sakit Umum Daerah Ajibarang merupakan salah satu Rumah Sakit yang telah ditetapkan sebagai Rumah Sakit PONEK di wilayah Kabupaten Banyumas sejak tahu 2017.  Dengan ditetapkannya RSUD AJibarang sebagai Rumah Sakit PONEK maka diperlukan komitmen bersama seluruh staf untuk berupaya mengoptimalkan pelayanan sesuai dengan pedoman Pelaksanaan Rumah Sakit PONEK yang telah ditetapkan. Upaya peningkatan PONEK di Rumah Sakit dilakukan melalui berbagai upaya antara lain peningkatan pengetahuan dan keterampilan tim dalam menyelenggarakan PONEK, pemenuhan tenaga kesehatan, pemenuhan ketersediaan peralatan, obat dan bahan habis pakai, terlaksananya manajemen pelayanan keperawatan dan penunjang yang lainnya.

Tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi salah satu permasalahan utama dalam bidang kesehatan di dunia. AKI dan AKB merupakan salah satu Indikator yang digunakan untuk menentukan status kesehatan mansyarakat baik di tingkat Kabupaten, Propinsi maupun di suatu negara. Pada tahun 2012 Kementrian Kesehatan telah meluncurkan program Expanding Maternal and  Neonatal Survival (EMAS) sebagai suatu upaya yang diharapkan mampu mempercepat penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia . Program ini merupakan hasil kerjasama Kementrian Kesehatan RI dengan United States Agency for International Development  (USAID) yang dilaksanakan di 6 Provinsi di Indonesia yang memiliki jumlah kematian maternal dan neonatal terbesar di Indonesia yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Salah satu pendekatan yang dijadikan fokus pelaksanaan program EMAS dalam  upaya penurunan AKI dan AKB adalah Penguatan Sistem Rujukan. Terlaksananya deteksi dini potensial kegawatan obstetri dan neonatal , ketepatan penegakan diagnosa, ketepatan pengambilan keputusan, proses rujukan yang terstandar , kompetensi petugas  serta tersedianya jejaring rujukan kasus maternal dan neonatal yang terintegrasi akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengelolaan pasien. Salah satu implementasi penguatan sistem rujukan adalah dengan melaksanakan kegiatan Audit Maternal Perinatal secara berkala.

Audit Maternal Perinatal merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk menelusuri kembali sebab kesakitan dan maternal dan perinatal dengan tujuan untuk mencegah kesakitan dan kematian di masa yang akan datang. Kegiatan AMP dilaksanakan secara berjenjang dimulai dari audit internal baik di PPK I, PPK II maupun PPK III dimana terdapat kasus kematian maternal dan neonatal. Setelah dilakukan audit di masing-masing PPK, maka Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota bersama Tim Pengkaji dari EMAS akan melakukan pengkajian seluruh hasil AMP yang telah dilaksanakan dari PPK I sampai PPK III.

Pada tanggal 9 April 2019 Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota bersama Tim Pengkaji dari EMAS telah melaksanakan AMP yang bertempat di RSUD Ajibarang. Kegiatan AMP kali ini  telah dilaksanakan dengan versi terbaru dimana pelaksanaan AMP dilaksanakan dengan memenuhi kaidah-kaidah audit yaitu No Name (tidak menyebutkan identitas) , No Shame  (tidak mempermalukan), No Blame ( tdak menyalahkan) dan No Pro Justicsia (tidak untuk keperluan peradilan). Kegiatan ini dilaksanakan secara berkala oleh Tim Audit Maternal Perinatal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas bersama dengan instansi pemberi pelayanan kesehatan yaitu Puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah Kabupaten Banyumas.

Sesuai dengan tujuan dilakukannya  AMP yaitu penelusuran terhadap penyebab kematian atau kesakitan maternal dan neonatal yang terjadi, maka kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh bidan, perawat, dokter umum dan dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi saja namun juga melibatkan lintas disiplin Ilmu yang terkait. Kegiatan AMP yang dipimpin oleh dr. Adi Setiawan, Sp.OG (K) dari RSU Margono Soekarjo selaku Ketua Tim Pengkaji AMP  juga dihadiri oleh para dokter spesialis lain diantaranya dr. Widyana Grehastuti Sp, OG, M.Si, Med selaku Kepala Bidang Pelayanan RSUD Ajibarang , dr. Igun Winarno Sp. An, dr. Heri Sugianto, Sp. B, dr. Rudi Kristianto Sp, B dan dr. Setya Dian Kartika Sp. OG sebagai narasumber dan pengkaji kasus. Pelaksanaan AMP dengan melibatkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu diharapkan dapat meningkatkan kualitas audit dimana proses penelusuran penyebab kematian dimulai dari penelusuran kasus dari PPK I sampai PPK III dapat dianalisa dari berbagai sudut pandang keilmuan dan akan menghasilkan suatu rekomendasi yang lengkap guna mencegah terjadinya kematian maternal dan perinatal di masa yang akan datang.

Setelah dilakukan analisa, pembahasan, klarifikasi dan penelaahan sejak lini pertama fasilitas pelayanan hingga lini terakhir, maka diperoleh beberapa rekomendasi dari para ahli dalam kegiatan tersebut . Beberapa hal penting yang dihasilkan sekaligus sebagai rekomendasi yang diharapkan akan mampu menurunkan AKI dan AKB di Kabupaten Banyumas diantaranya :

  1. Perlunya kesepahaman tentang prosedur rujukan dan protap Penatalaksanaan Pre Eklampsi.
  2. Deteksi dini kasus Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan pemantauan status gizi Ibu hamil sejak pertama kali kontak dengan petugas kesehatan, termasuk kerjasama lintas sektoral untuk pemanfaatan dana desa untuk sektor kesehatan terutama ibu dan anak.
  3. Perubahan diagnose dari PER dan PEB menjadi Pre Eklampsi, sehingga diharapkan kewaspadaan tentang risiko kegawatan akan lebih optimal termasuk penatalaksanaan dengan pemberian MgSO4 sebagai suatu proseudur yang harus dilakukan baik di PPK I maupun PPK II dan PPK III.
  4. Stabilisasi pra rujukan harus dilaksanakan secara optimal.

Dengan dilaksanakannya Audit Maternal Perinatal secara berkesinambungan serta melibatkan multidisiplin ilmu kesehatan diharapkan dapat menghasilkan analisa yang mendalam , rekomendasi yang tepat sasaran serta mampu melahirkan komitmen yang kuat dalam diri setiap tenaga kesehatan bahwa Penurunan Angka Kematian Ibu dan Bayi merupakan tanggungjawab bersama. Selain itu perlu dilakukan kerjasama lintas sektoral dan lintas program  agar upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia bukan hanya dilaksanakan di tingkat pelaksana atau pemberi pelayanan kesehatan namun didukung oleh kebijakan-kebijakan yang berpihak pada peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak. (By Riski Amalia,SST –ed.goens)

Galeria Foto :

 

 

Related Posts

Komentar