Epiglotitis

Jumat, 14 September 2018 | 9284 Kali
Epiglotitis

EPIGLOTITIS

 Oleh : dr. Sutrisno / dr. Florence Alexandra, Sp.A

Ajibarang,- Epiglotitis akut adalah suatu keadaan inflamasi akut yang terjadi pada daerah supraglotis dari orofaring, meliputi epiglotis, valekula, aritenoid, dan lipatan ariepiglotika. Epiglotitis pada anak dapat berakibat obstruksi jalan nafas akut. Epiglotis pada anak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan pada orang dewasa. Pada anak-anak, epiglotis terletak lebih ke anterior dan superior dibandingkan pada orang dewasa, dan berada pada sudut terbesar dengan trakea. Epiglotis pada anak juga lebih terkulai dan berbentuk “omega shaped” serta lebih kaku dibandingkan dengan epiglotis dewasa yang lebih elastis dan berbentuk “U-shaped” pada orang dewasa.

Epiglotitis akut biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri. Bakteri yang paling sering ditemukan adalah Haemophilus influenzae tipe b, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri lain, seperti Streptococcus pneumonia, Haemophilus parainfluenzae, Streptococcus β-hemolyticus grup A dan grup C, Staphylococcus aureus. Bakteri ini menyebar melalui percikan ludah (droplet) yang kemudian terhirup ke saluran nafas. Penyebab non-infeksi dari epiglotitis akut dapat berupa penyebab termal (makanan atau minuman yang panas, penggunaan obat-obatan terlarang seperti rokok kokain), penyebab kaustik, dan benda asing yang tertelan. Epiglotitis juga dapat terjadi sebagai reaksi dari kemoterapi pada daerah kepala dan leher.

Epiglotitis pada anak-anak, manifestasi klinik yang nampak akan terlihat lebih berat dibandingkan pada orang dewasa. Tiga tanda yang paling sering ditemui adalah demam, sulit bernafas, dan iritabilitas. Anak-anak akan terlihat toksik, dan terlihat tanda-tanda adanya obstruksi saluran nafas atas. Akan terlihat pernafasan yang dangkal, stridor inspiratoar, retraksi, dan saliva yang menggenang. Selain itu juga terdapat nyeri tenggorok yang hebat dan disfagia. Berbicara pun terbatas akibat nyeri yang dirasakan. Batuk dan suara serak biasanya tidak ditemukan, namun bisa terdapat suara menggumam. Stridor muncul ketika saluran nafas hampir sepenuhnya tertutup. Anak-anak biasanya akan melakukan posisi “tripod” (pasien duduk dengan tangan mencengkram pinggir tempat tidur, lidah menjulur dan kepala lurus ke depan). Laringospasme dapat muncul secara tiba-tiba dengan adanya aspirasi sekret ke saluran nafas yang telah menyempit dan menimbulkan respiratory arrest.

Pemeriksaan penunjang pada epiglotitis dapat dilakukan pemeriksaan orofaring dan laringoskopi, dapat terlihat epiglotis dan daerah sekitarnya yang eritematosa, membengkak, dan berwarna merah ceri, namun pemeriksaan ini jarang dilakukan karena kemungkinan akan memperparah sumbatan dari saluran nafas. Pada pemeriksaan radiologi ditemukan gambaran “thumb sign”, yaitu bayangan dari epiglotis globular yang membengkak, terlihat penebalan lipatan ariepiglotika, dan distensi dari hipofaring.

Pada anak-anak, croup dapat merupakan diagnosis banding dari epiglotitis. Usia pasien, gejala prodromal, adanya batuk, dan tingkat toksisitas dapat membantu membedakan epiglotitis dari croup. Biasanya pada anak dengan croup terdapat barking cough dan jarang terlihat toksik.

Penatalaksanaan pada pasien dengan epiglotitis diarahkan untuk mengurangi obstruksi saluran nafas dan menjaganya agar tetap terbuka serta mengeradikasi agen penyebab. Pada pasien dengan gangguan nafas sedang berat dapat dipertimbangkan untuk dilakukan intubasi dan trakeostomi. Antibiotik intravena dapat dimulai sesegera mungkin dan merupakan broad-spectrum antibiotic. Kortikosteroid sering direkomendasikan untuk epiglotitis karena berfungsi untuk mengurangi inflamasi dan pembengkakan epiglotis. Nebulisasi epinefrin akan menurunkan permeabilitas vaskular epitel bronkus, trakea dan epiglotis, memperbaiki edema mukosa laring, dan meningkatkan laju pernafasan.

Related Posts

Komentar